IBU MERTUA BUKAN MUSUH KITA YANG HARUS DI BENCI

UNTUK PARA UKHTY/WANITA KHUSUSNYA :
√ JIKA KITA MENIKAH DAN HARUS TINGGAL DENGAN IBU MERTUA
Jika kelak kita menikah, dan kemudian ditakdirkan menetap satu atap bersama ibu mertua yg hanya tinggal seorang diri.


Apakah tega kita meninggalkannya ? Tentulah tidak.


Meski sikap ibu mertua terkadang membuat kita kesel dan sebel. Tp tak lantas kita bersikap yg tak baik dgnnya.


Bagaimanapun ia wanita yg telah bersusah payah mengandung, melahirkan, merawat, menjaga serta mendidik suami kita.


Cobalah kita mengalah sebentar saja, saat ibu mertua membuat hati kita sakit sebab sikap / perkataannya. 


Kebanyakan dr kita mudah berprasangka buruk pd ibu mertua.


Mungkin sebenarnya mereka tak ada maksud utk menyakiti hati kita. 


Masing2 manusia memiliki berbagai mcm karakter dan memiliki 2 sisi baik dan buruk.


Cobalah kita senantiasa berprasangka baik pd apapun itu.

Saat kita mencoba berpikir baik. Apapun itu, akan tetap terlihat baik. 


Bisa jd ia menyebalkan karna sebenarnya mereka butuh didengarkan. Bisa jd karena ia kesepian. Ia hanya butuh diperhatikan. 


Menjelang usia ia yg semakin tak muda lagi. Aktivitas yg ia lakukan itu itu saja. Menjadikan ia jenuh dan akibatnya stress / banyak pikiran. 


Sebenarnya…

Diam2, kita yg sering beradu argumen itu. Dlm hati tak mau dihadapkan dlm masalah ini. 


Tanpa kita sadari masing2 diantara kita (menantu vs mertua) saling memperhatikan namun secara diam2.


Si menantu selalu merapikan tempat tidur mertuanya, membuatkan masakan khusus yg disukai ibu mertuanya, menyukai tontonan yg disukai ibu mertuanya (meski sebenarnya ia tak suka) semua itu dilakukan (diam2) tanpa ibu mertuanya menyadari.


Dan sang mertua menjahitkan kancing pd daster mantunya yg sudah copot, mengingatkan hal2 kecil (yg kadang kita pikir dia bawel, membawakan sesuatu dr ia pergi khusus utk kita dan semua itu dilakukan (diam2) tanpa menantu menyadarinya.


Diam2 hati kita mulai merajut Kasih yg selama ini terlihat tak sejalan, namun kenyataanya, hati kita terpaut oleh lelaki yg sama2 kita cintai.


Semoga kita dan suami nantinya tetap bersatu utk saling menguatkan & ikhlas dlm membahagiakan hati wanita yg telah melahirkan kita…. 
Allahumma Aamiin….
Sumber Dikutip Dari : Facebook Delia Zahra, dengan sedikit perubahan, semoga beliau memaklumi …..
____________________________________________________
SEBAGAI PENJELASAN TAMBAHAN
          SEMOGA BERMAMFAAT !!!
Istri Memusuhi Ibu ?
Redaksi Yth….

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya mempunyai problem, tetapi memang akar permasalahannya cukup panjang untuk diutarakan disini. Yang saya tanyakan. Bagaimana sikap yang harus diambil terhadap menantu yang memusuhi mertuanya dan ia didukung oleh ibunya agar jangan pernah datang ke rumah orang tua saya. Saya kasihan, terutama kepada ibu saya, beliau menjadi tertekan atas sikap menantunya tersebut. Jazakumullah…
By : Ikhwan, Banten
Jawab :

Kami ikut prihatin dengan masalah yang sedang Anda hadapi. Memang tidak jarang terjadi adanya perselisihan antara ibu dengan menantunya (istri anaknya), yang kemudian mengarah kepada pertengkaran, dan ini amat disayangkan. Karena, bagaimanapun juga, ibu mertua adalah ibu suaminya. Sehingga, mau tidak mau harus dihormati dan tidak boleh dimusuhi.
Tidak dipungkiri, yang menjadi pemicunya, terkadang masalah yang ringan, tetapi kadang juga persoalan yang mendasar dan besar. Timbulnya bias karena faktor istri, tetapi kadang juga karena faktor ibu mertua itu sendiri, yang terkadang berlebihan dalam bersikap, sehingga membuat risih menantunya. Bahkan tak jarang membuat menantunya merasa sangat terganggu, sehingga tidak menyukai sikap ibu mertua, atau bahkan sampai “membencinya”. Bisa juga timbul karena miss komunikasi antara keduanya. Jadi perlu kejelasan duduk persoalan yang sedang Anda hadapi ini, agar dapat dicarikan solusi, dahulu baru kemudian mensikapinya dengan penuh bijak. Sebab, kata para ulama, hukum atas sesuatu itu adalah, cabang dari gambaran permasalahannya.
Oleh karena itu, kami menasihati Anda untuk berkonsultasi kepada ulama atau ustadz atau da’i yang betul-betul dipercaya untuk meminta solusi terbaik dari permasalahan Anda tersebut. Sebab, bila memungkinkan hendaklah dipecahkan dengan damai, dan itu lebih baik, sebagaimana firman Allah:
وَالصُّلْحُ خَيْرٌ
“…dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”. [an Nisaa` : 128]
Bila memungkinkan, Anda perlu mencari penyebab kebencian tersebut. Usahakan agar mempertahankan pernikahan tersebut. Sangat dianjurkan agar Anda menasihati sang istri untuk mengalah dan menghilangkan prasangka buruk kepada ibu Anda. Apabila ia bisa demikian, maka perlu sekali Anda membicarakan dengan ibu, juga agar bersikap kooperatif. Mudah-mudahan Allah menghilangkan kebencian di hati keduanya. Tetapi Anda jangan lupa, bahwa hati manusia itu berada di tangan Allah, dan Allah-lah yang membolak-balikkannya, sebagaimana sabda Rasulullah :
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Sesungguhnya hati-hati bani Adam seluruhnya di antara dua jemari Allah seperti satu hati. Allah palingkan sesukanya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati-hati, palingkanlah hati-hati kami untuk mentaati Engkau”. [HR Muslim].
Dengan memahami ini, Anda jangan sampai lupa menyerahkan hal ini kepada Allah, berdoa agar kebencian dihilangkan dari hati keduanya.
Adapun kepada ibu mertua (ibu dari istri), Anda perlu membangun hubungan dan komunikasi yang baik. Pahamkan, bahwa sebab pernikahan antara Anda dengan dan istri, tidak terlepas dari persetujuan dua keluarga, yaitu keluarga Anda dan keluarga istri, sehingga bila terjadi sesuatu di antara keluarga besar tersebut, bisa dengan melibatkan keduanya dengan cara yang baik dan sesegera mungkin.
Bila ternyata tidak mungkin diperbaiki keadaannya, maka agama Islam memberikan solusi terakhir yang pahit, dan terkadang berdampak negatif untuk keluarga Anda, atau hubungan antara keluarga orang tua Anda dengan keluarga istri. Solusi ini adalah perceraian, yang tentunya tidak diharapkan oleh Anda. Sebab Anda memiliki kewajiban besar dan penting, yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Kewajiban ini dapat mengalahkan lainnya. Bisa jadi, jika Anda mempertahankan pernikahan dalam keadan seperti itu terus, maka kemungkinan orang tua Anda akan kecewa dan menderita disebabkan keadaan tersebut. Disinilah Anda dituntut untuk bisa bersikap arif dan bijak dalam memilih dan memilah permasalahan.
Nasihat kami kepada istri Anda, hendaknya bertakwa kepada Allah. Berusahalah menghilangkan kebencian dan permusuhan kepada Ibu dari suami Anda. Ingatlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
“Jangan saling bermusuhan, saling hasad dan saling berpisah. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak boleh seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”. [HR al Bukhari].
Kita dilarang saling bermusuhan, apalagi yang Anda musuhi adalah mertua. Mungkin berat di hati, namun dengan ketabahan dan kesabaran, insya Allah, Anda akan mendapatkan kebaikan berlipat, baik dalam kehidupan dunia yang fana’ ini, atau pada kehidupan akhirat yang kekal nanti.
Sedangkan kami kepada ibu mertua Anda (ibu istri), hendaklah bertakwa kepada Allah dan membimbing putrinya untuk lebih baik dalam segala sisi kehidupannya. Tidak ikut mendukung dalam perkara yang dilarang Allah. Menanggapi permasalahan ini, tunjukkanlah sikap mulia, dan seharusnya menempatkan diri sebagai penengah ataupun mediator yang bisa menjadi perekat, dan ikut menciptakan kondisi yang baik dalam hubungan antara kedua keluarga besar tersebut.
Kepada ibu Anda, hendaklah bertakwa dan sabar melihat kelemahan, kesalahan dan kekurangan menantunya. Bersabarlah dan terus berusaha instrospeksi agar senantiasa menjadi hamba Allah yang sabar dan bertakwa. Tak ada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah, yang cepat bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap bani Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat”. [HR at Tirmidzi, dan dihasankan Syaikh al Albani].
Akhirnya, kepada Anda kami nasihati, dalam memandang masalah ini, hendaklah Anda cari akar permasalahannya. Selesaikanlah dengan bijak dan sesuai syariat. Anda bisa meminta bantuan ulama, ustadz atau orang lain yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan ini.
Kami ikut berdoa, mudah-mudahan Allah l memudahkan Anda dan menunjukkan jalan yang lurus kepada istri serta ibu Anda, sehingga hilanglah sikap permusuhan di hati keduanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi Petunjuk. (Kh)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
( SUMBER ALMANHAJ.COM )
____________________________________________________
KEMUDIAN DI JELASKAN LAGI PADA SITUS LINK TERPERCAYA RUMAYSHO.COM
Dengan menjelaskan bahwa, apakah Istri harus berbakti kepada mertua (orang tua suami), apakah wajib?
√ Yang jelas istri punya kewajiban untuk berbakti dan taat pada suami.
Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Hadits berikut juga menunjukkan bagaimanakah mulianya seorang wanita jika ia bisa berbakti pada suami dengan baik.
Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
√ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج
“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan: Tidak wajib, namun mustahab (sunnah) dan itu bagian dari ihsan (berbuat baik). (Video Syaikh Musthofa Al Adawi di Youtube)
 Para istri, jangan lupakan yah. Tetap jalin hubungan baik dengan mertua. Raih pahala dengan bentuk berbuat baik dengan mereka, biar lebih menyenangkan hati suami dan Anda punya nilai istimewa di matanya.
Hanya Allah yang memberi taufik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s